Thursday, September 15, 2011

Reuni Oh Reuni

Huehe lagi seru  ketemuan lagi sama temen2 SMP di facebook, gara2 gak sengaja liat link reunian SMP di fb, awal2 gue loading lama, otak gue perlu pembanding dengan menggali memory tentang tampang2 culun mereka di masa lalu comparing dengan foto2 mereka di fb dengan anak2 mereka :D
Yang cewek udah jadi emak2 semua (ya iyalah secara udah kepala 3 :p)
Yang cowok,... hmm..... boys will be boys... hihihi :)

Jadi inget kekonyolan2 waktu itu, cinta monyet, celana pendek tapi bulu kaki udah bejibun Hahahaha...,

Tapi di balik semua cerita seru yang gue inget, gw juga jadi inget guru2 gue dulu waktu di SMP dan sampe sekarang mereka tetap mengabdi di SMP tempat gw sekolah dulu

Yang dulu keliatan gagah trendy, sekarang mulai memutih rambutnya, yang dulu keliatan cantik bersinar kini mulai tambah berwibawa dengan jilbab yang dipakainya :D
Gw aja loadingnya lama waktu ngeliat wajah2 mereka di blog nya SMP gw, apa kira2 mereka inget ama gue apa nggak ya??
Tapi
Ada slogan yang bilang, sangat maklum kalo anak murid terlupakan oleh gurunya, karena jumlahnya pasti ribuan, tapi kebangetan kalo anak murid lupa gurunya karena dari mulai sekolah sampe lulus jumlah paling cuma puluhan

Well,... ada kisah inspiratif yang gw copas dari forum tercinta

Cekidot....



Pak Hamid duduk termangu. Dipandanginya benda-benda yang berjajar di depannya dengan masygul. Bertahun-tahun dimilikinya dengan penuh kebanggaan. Dirawat dengan baik hingga selalu bersih dan mengkilap. Jika ada orang yang bertanya, Pak Hamid akan bercerita dengan penuh kebanggaan.

Siapa yang tidak bangga memiliki benda-benda itu? Berbagai plakat penghargaan yang diterimanya selama 35 tahun pengabdiannya sebagai guru di daerah terpencil. Daerah terisolasi yang tidak diminati oleh guru-guru yang lain.

Namun Pak Hamid ikhlas menjalaninya, walau dengan gaji yang tersendat dan minimnya fasilitas sekolah. Cinta Pak Hamid pada anak-anak kecil yang bertelanjang kaki dan rela berjalan jauh untuk mencari ilmu, mampu menutup keinginannya untuk pindah ke daerah lain yang lebih nyaman.

Kini masa itu sudah lewat. Masa pengabdiannya usai sudah pada usianya yang keenam puluh. Meskipun berat hati, Pak Hamid harus meninggalkan desa itu beserta keluarganya. Mereka tinggal di rumah peninggalan mertuanya di pinggir kota. Jauh dari anak didik yang dicintainya, jauh dari jalan tanah, sejuknya udara dan beningnya air yang selama ini menjadi nafas hidupnya.

“Hei, jualan jangan sambil melamun!” teriak pedagang kaos kaki di sebelahnya. Pak Hamid tergagap.

“Tawarkan jualanmu itu pada orang yang lewat. Kalau kamu diam saja, sampek elek ra bakalan payu!”* kata pedagang akik di sebelahnya.

“Jualanmu itu menurutku agak aneh,” ujar pedagang kaos kaki lagi. “Apa ada yang mau beli barang-barang seperti itu ? Mungkin kamu mesti berjualan di tempat barang antik. Bukan di kaki lima seperti ini”.

Pak Hamid tak menjawab. Itu pula yang sedang dipikirkannya. Siapa yang tertarik untuk membeli plakat-plakat itu? Bukanlah benda-benda itu tidak ada gunanya bagi orang lain, sekalipun sangat berarti baginya ?

“Sebenarnya kenapa sampai kau jual tanda penghargaan itu ?” tanya pedagang akik.
“Saya butuh uang.”

“Apa istri atau anakmu sedang sakit ?”
“Tidak. Anak bungsuku hendak masuk SMU. Saya butuh uang untuk membayar uang pangkalnya.”

“Kenapa tidak ngutang dulu. Siapa tahu ada yang bisa membantumu.”
“Sudah. Sudah kucoba kesana-kemari, namun tak kuperoleh juga.”

“Hei, bukankah kau punya gaji...eh... pensiun maksudku.”
“Habis buat nyicil montor untuk ngojek si sulung dan buat makan sehari-hari.”

Penjual akik terdiam. Mungkin merasa maklum, sesama orang kecil yang mencoba bertahan hidup di kota dengan berjualan di kaki lima .
“Kau yakin jualanmu itu akan laku?”penjual kaos kaki bertanya lagi setelah beberapa saat. Matanya menyiratkan iba.
“Insya Allah. Jika Allah menghendaki aku memperoleh rejeki, maka tak ada yang dapat menghalanginya.”

Siang yang panas. Terik matahari tidak mengurangi hilir mudik orang-orang yang berjalan di kaki lima itu. Beberapa orang berhenti, melihat-lihat akik dan satu dua orang membelinya. Penjual akik begitu bersemangat merayu pembeli. Rejeki tampaknya lebih berpihak pada penjual kaos kaki. Lebih dari dua puluh pasang kaos kaki terjual. Sedangkan jualan Pak Hamid, tak satupun yang meliriknya.

Keringat membasahi tubuh Pak Hamid yang mulai renta dimakan usia. Sekali lagi dipandanginya plakat-plakat itu. Kegetiran membuncah dalam dadanya. Berbagai penghargaan itu ternyata tak menghidupinya. Penghargaan itu hanya sebatas penghargaan sesaat yang kini hanya tinggal sebuah benda tak berharga.

Sebuah ironi yang sangat pedih. Tak terbayangkan sebelumnya. Predikatnya sebagai guru teladan bertahun yang lalu, tak sanggup menghantarkan anaknya memasuki sekolah SMU. Sekolah untuk menghantarkan anaknya menggapai cita-cita, yang dulu selalu dipompakan ke anak-anak didiknya. Saat kegetiran dan keputusasaan masih meliputinya, Pak Hamid dikejutkan oleh sebuah suara.

“Bapak hendak menjual plakat-plakat ini?” seorang lelaki muda perlente berjongkok sambil mengamati jualan Pak Hamid. Melihat baju yang dikenakannnya dan mobil mewah yang ditumpanginya, ia sepertinya lelaki berduit. Pak Hamid tiba-tiba berharap.

“Ya...ya..saya memang menjual plakat-plakat ini,” jawab Pak Hamid gugup.
“Berapa bapak jual setiap satuannya?”

Pak Hamid berfikir,”Berapa ya? Bodoh benar aku ini. Dari tadi belum terpikirkan olehku harganya.”

“Berapa, Pak?”
“Eee...tiga ratus ribu.”
“Jadi semuanya satu juta lima ratus. Boleh saya beli semuanya ?”

Hah! Dibeli semua, tanpa ditawar lagi! Kenapa tidak kutawarkan dengan harga yang lebih tinggi? Pikir Pak Hamid sedikit menyesal. Tapi ia segera menepis sesalnya. Sudahlah, sudah untung bisa laku.

“Apa bapak punya yang lain. Tanda penghargaan yang lain misalnya ...”
Tanda penghargaan yang lain? Pak Hamid buru-buru mengeluarkan beberapa piagam dari tasnya yang lusuh. Piagam sebagai peserta penataran P4 terbaik, piagam guru matematika terbaik se kabupaten, bahkan piagam sebagai peserta Jambore dan lain-lain piagam yang sebenarnya tidak begitu berarti. Semuanya ada sepuluh buah.

“Bapak kasih harga berapa satu buahnya ?”
“Dua ratus ribu.” Hanya itu yang terlintas di kepalanya.

“Baik. Jadi semuanya seharga tiga juta lima ratus ribu. Bapak tunggu sebentar, saya akan ambil uang di bank sana itu.” kata lelaki perlente itu sambil menunjuk sebuah bank yang berdiri megah tak jauh dari situ.
“Ya...ya..saya tunggu.” kata Pak Hamid masih tak percaya.

Menit-menit yang berlalu sungguh menggelisahkan. Benarkah lelaki muda itu hendak membeli plakat-plakat dan berbagai tanda penghargaannya? Atau dia hanya penipu yang menggoda saja? Pak Hamid pasrah.

Tapi nyatanya, lelaki itu kembali juga akhirnya dengan sebuah amplop coklat di tangannya. Pak Hamid menghitung uang dalam amplop, lalu buru-buru membungkus plakat-plakat dan berbagai tanda penghargaan miliknya dengan kantong plastik, seakan-akan takut lelaki muda itu berubah pikiran.

Dipandangnya lelaki muda itu pergi dengan gembira bercampur sedih. Ada yang hilang dari dirinya. Kebanggaan atau mungkin juga harga dirinya. Pak Hamid kini melipat alas dagangannya dan segera beranjak meninggalkan tempat itu, meninggalkan pedagang akik dan kaos kaki yang terbengong-bengong. Entah apa yang mereka pikirkan. Namun, ia tak sempat berfikir soal mereka, pikirannya sendiri pun masih kurang dapat mempercayai apa yang baru saja terjadi.

“Lebih baik pulang jalan kaki saja. Mungkin sepanjang jalan aku bisa menata perasaanku. Sebaik mungkin. Aku tidak ingin istriku melihatku merasa kehilangan plakat-plakat itu. Aku tidak ingin ia melihatku menyesal telah menjualnya. Karena aku ingin anakku sekolah, aku ingin dia sekolah!” Pak Hamid bertutur panjang dalam hati.

Ia melangkah gontai menuju rumah. Separuh hatinya begitu gembira, akhirnya si bungsu dapat sekolah. Tiga setengah juta cukup untuk membiayai uang pangkal dan beberapa bulan SPP. Namun, separuh bagian hatinya yang lain menangis, kehilangan plakat-plakat itu, yang sekian tahun lamanya selalu menjadi kebanggaannya.

Jarak tiga kilometer dan waktu yang terbuang tak dipedulikannya. Sesampainya di rumah, istrinya menyambutnya dengan wajah khawatir.

“Ada apa, Pak? Apa yang terjadi denganmu? Tadi ada lelaki muda yang mencarimu. Dia memberikan bungkusan ini dan sebuah surat. Aku khawatir sampeyan ada masalah.”

Pak Hamid tertegun. Dilihatnya kantong plastik hitam di tangan istrinya. Sepertinya ia mengenali kantong itu. Dibukanya kantong itu dengan terburu-buru. Dan...plakat- plakat itu, tanda penghargaan itu ada di dalamnya! Semuanya! Tak ada yang berkurang satu bijipun! Apa artinya ini? Apakah lelaki itu berubah pikiran? Mungkin ia bermaksud mengembalikan semuanya. Atau mungkin harga yang diberikannya terlalu mahal.

Batin Pak Hamid bergejolak riuh. Segera dibukanya surat yang diangsurkan istrinya ke tangannya. Sehelai kartu nama terselip di dalam surat pendek itu.

Pak Hamid yang saya cintai,
Saya kembalikan plakat-plakat ini. Plakat-plakat ini bukan hanya berarti untuk Bapak, tapi juga buat kami semua, murid-murid Bapak. Kami bangga menjadi murid Bapak. Terima kasih atas semua jasa Bapak.

Gunarto, lulusan tahun 75.


Tak ada kata-kata. Hanya derasnya air mata yang membasahi pipi Pak Hamid.

Sunday, July 24, 2011

CINTA TANPA ALASAN

Walaupun cuma copas dari Forum tercinta
tapi gw suka banget kata2nya
semoga menginspirasi

Jika aku memikirkanmu, bukan karena kau malaikat,
Maka aku tidak akan berpaling ketika sayapmu patah
Aku menginginkanmu bukan karena kamu putih, maka aku tidak akan beranjak ketika sucimu ternoda...
Aku membutuhkanmu bukan karena kau matahari, maka aku tidak akan terlelap ketika terangmu terbenam...
          Aku menyayangimu bukan karena satu dan seribu hal
          Maka tidak ada alasanku untuk meninggalkanmu
          Sekalipun kau menjadi kosong.....................


Sunday, January 30, 2011

Kisah Orang tua, anak dan seekor kuda kecil

Kisah ini bercerita tentang orang tua dan anak laki2 yang paling disayanginya pergi dengan membawa kuda mereka yang kecil lagi kurus kering;



Suatu saat, si ayah menuntun kuda dengan si anak naik diatas kuda tersebut, ditengah jalan mereka berpapasan dengan 2 orang laki laki yang menggunjingkan mereka, "Dasar anak kurang ajar! masak si bapak yang udah tua itu disuruh jalan sementara si anak enak2an naik diatas kuda!"

Disaat berikutnya, karena lelah si bapak bergantian naik ke atas punggung kuda tersebut, sementara si anak turun bergantian menuntun kuda, di tengah jalan mereka berpapasan dengan sekuumpulan wanita yang pulang dari pasar "Memang orang tua nggak tau diri, anaknya yang masih kecil disuruh nuntun kuda, sementara dia enak2an duduk diatas kudanya, orangtua macam apa itu ?!!"

Setelah jauh berjalan mereka merasa lelah, maka si orang tua menyuruh si anak untuk naik ke atas punggung kuda bersama dirinya, lagi lagi di perjalanan mereka berpapasan dengan pemuda yang melihat kearah mereka dengan mata nanar sambil berkata, "dasar manusia nggak mengerti rasa belas kasihan, masak kuda kurus kering begitu mereka naiki berdua, kasihan sekali kuda itu, dasar manusia nggak tau diri!!"

Karena merasa sudah enakan dan penat karena duduk terus diatas kuda, maka orang tua dan anaknya tersebut berdua turun dan menuntun kudanya ke tempat tujuan akhir mereka, menjelang gerbang desa yang di tuju mereka berpapasan dengan pedagang yang juga menatap mereka dengan heran,... "Dasar manusia Goblog! buat apa mereka punya kuda kalo mereka harus jalan, kudanya cuma dituntun! dasar..!!"

Kawan, Semua apa yang kita lakukan untuk keluarga hanya kitalah yang tau alasannya, orang lain hanya melihat dari luar, tidak bisa merasakan derita, airmata, senang , susah atas pencapaian yang telah kita dapat oleh keluarga kita.
Intinya, biarlah orang bicara apa tentang kita, selama kita berniat baik terhadap diri kita, keluarga dan orang lain, jangan pedulikan omongan & gunjingan orang luar yang bisa membuat kita merasa tidak nyaman atas usaha dan perbuatan baik kita untuk orang2 yang kita sayangi. 







Terinspirasi dari yang diceritakan oleh my beloved brother, thanks mas wyd :)

Saturday, January 29, 2011

Love Love Love....

Bicara soal cinta.... cieeehhh...
Mencintaimu  =  Mencintai seluruh kekurangan dan kelebihanmu..


Merinding waktu mendengarmu bilang padaku:
"Kamu emang nggak sempurna, tapi kamulah yang terbaik buat aku...."


Dedicated for my beloved wife, I Love You so much beibh :)

Sunday, December 12, 2010

HUMOR SARA

Waktu jaman penjajahan Orde Baru dulu, Angkatan bersenjata adalah instansi yang sangat di takuti (bukan disegani :p).
Nah orang dari suku madura, waktu itu sangat takut sama yang namanya abri :)


Suatu hari cak Mardin mau Jalan2 ke kota dengan menaiki bis yang penuh sesak, disuatu tempat naiklah orang berbadan tegap dan bercukur cepak berdiri tepat di depan cak Mardin


cak Mardin : (dengan logat madura  bernada pelan 1/2 takut) hmm mm mas.. appa sammpiyan Polissi?
Orang tegap : (menatap dengan heran) bukan mas..
cak Mardin : (sedikit lega) Oo kalo beegito sampiyan tentarra?
Orang tegap : bukan juga (?????)
cak Mardin : Ooo bukan ya,... hmmm angkatan laut atau angkatan udara mungkin mas? (dengan nada yang agak lebih jelas dari sebelumnya)
Orang tegap : Hnngg nggak juga, bukan.. kenapa?
cak Mardin : (dengan keras)... kalau begitu JANCUK sampiyan mas..!!
Orang tegap : (Kaget+bingung) Lah emang napa?!!!
cak Mardin : SAMPIYAN DARI TADI INJEK KAAAKKI SAYYA... !!!!!


:)

Saturday, December 11, 2010

Work Work Work....

Sungguh sore yang cerah keliatannya..Hhhhh...
Eh nggak keliatan ding lah wong gue masih di dalam Control Room yang tanpa Jendela :S
Tau nggak? Tempat gue kerja itu adalah sebuah ruangan yang terbuat dari besi (besi.. lo tau kan besi?) yang cuma dikasih 2 monitor cctv untuk ngeliat keluar dengan 4 kamera Integrated, suhu ruangan rata2 23DegC, dan gue harus "berendem" disitu selama 12 jam sehari, 14 hari nonstop dalam sebulan, bisa keluar kalo makan doang atau pake alesan ngerokok.... 
Well I might spend all the rest of my work life here... (lebayyyyyy)

Tapi diluar semua kesibukan gue (sibuk stand by di depan  DCS!), gue bisa puas browsing di internet, everything i can do, mulai beli tiket pesawat sampe beli kolor......, mulai belajar dari wikipedia sampe nulis blog gak jelas

I Love my jobs :')



Banyak kaaan layar monitornya :)

Tapiiiii,.... diluar ruangan tempat gue bekerja, pemandangannya kadang menjadi luar biasa...., yang susah di temuin kalo lagi di Jakarta, dirumah apalagi dikamar... :)



Cuma disini dapet view yang kayak gini ..weeeww

Atau Ini Oooooooowwhhhhhh...

Raport 2010 vs Shutdown 2010

Busyet 2 hari berturut turut, Sumur Gas ku shutdown, kalo besok shutdown lagi dapet payung deh, hatrick boow..
Hmm.. untungnya bukan gue yang lagi "nyetir" DCS nya huupffhh

Yang model begini yang bikin serem abis,..... karena shutdown lo bisa gak naek gaji setaun penuh!
Mana udah akhir tahun pula nih, wayae penilaian akhir tahun......
mudah2an gak ngaruh...mudah2an gak ngaruh....mudah2an gak ngaruh...(setengah berbisik..)



 Shutdown Hari pertama:
Boss: kenapa sampe kamu pencet itu tombol shutdown push button??kenapa gak kamu tutup 1 per satu sumurnya? kan kalo kamu trigger shutdwon push button, gas loss kita lebih banyak, harus kirim orang maintenance pula!
Panel operator: Lah boss gak sempet kalo nutup sumur 1 persatu bos, platform keburu mbleduk. Ntar ruginya malah lebih banyak lagi lho..
Boss: Oke kalo gitu nanti minta bikin dipercepat itu DCS mu biar kamu bisa tutup sumur 1 per 1
Panel Operator: Ok boss Siap



Shutdown Hari kedua
Boss: Kenapa bisa kemarin shutdown koq sekarang shutdown lagi???
Panel Operator: Kesalahan alat boss
Boss: Lah koq bisa itu sumur gak nutup semua? bisa bahaya tau!!
Panel operator: Lah kan untung bos, jadi ruginya gak terlalu banyak
Boss: Iya tapi kan bahaya, kenapa kamu gak pencet itu shutdown push button???
Panel Operator: ??????????????